CARBON TRADING, PERSPEKTIF MONETER DAN PARADIGMA PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN

1. Pendahuluan
Setiap negara mengalami proses pertumbuhan ekonomi yang berbeda karena memiliki potensi yang beragam, namun pertumbuhan ekonomi yang dicapai tidak jarang melupakan hal vital seperti aspek lingkungan. Berdasarkan Prabowo, et al. (1985; 2) menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi memiliki implikasi negatif terhadap resiko kerusakan ekologi dan sumber daya alam dikarenakan dalam pertumbuhan ekonomi terdapat proses yang membahayakan ekologi lingkungan seperti eksploitasi berlebihan dan adanya eksternalitas akibat adanya industri, Naisbitt dan Patricia dalam Kuncoro (2000) memberikan proyeksi perpektif mengenai perkembangan negatif perekonomian masa depan dimana krisis yang terjadi disebabkan oleh berbagai faktor diantaranya penyakit yang melanda kehidupan manusia, jatuhnya bursa saham wallstreet, masalah ketahanan pangan, ketidak stabilan harga produk primer, proteksionisme dalam era perdagangan bebas, masalah pendanaan asing dan perubahan iklim yang disebabkan oleh menipisnya lapisan ozon.
Pertumbuhan ekonomi selalu berkembang, sedangkan perubahan iklim merupakan dampak dari kerusakan lingkungan yang salah satunya disebabkan oleh peningkatan emisi karbon dari sektor industri. lebih lanjut, Strategi menanggapi fitalitas isu lingkungan tersebut maka muncul aliansi dari berbagai negara di dunia membentuk suatu kesepakatan internasional mengenai tanggung jawab bersama dalam menjaga eksistensi lingkungan ekologi dengan usaha menurunkan emisi gas rumah kaca. Hal itu diwujudkan dengan dalam Protokol Kyoto pada tahun 1997 di bawah United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) yang berisi komitmen negara industri baik maju dan negara dalam transisi untuk mengurangi emisinya gas rumah kaca (terutama gas CO2, CH4, NOx) dimulai pada periode pertama pada tahun 2008 sampai 2012.

Isi dari protokol kyoto terdapat kesepakatan adanya pengurangan emisi karbon dengan skema perdagangan emisi dari proyek-proyek bersertifikat unit pengurangan emisi, target ini dilakukan yaitu sebesar penurunan minimal 5% dari tingkat emisi tahun dasar yaitu tahun 1990 ( Murdiyarso, 2003;13).
Indonesia sebagai negara kepulauan sangat rentan terhadap efek perubahan iklim seperti terjadinya berbagai bencana seperti kebakaran hutan, rusaknya sektor kelautan dan efek badai el nino, sehingga menjadi target dampak mekanisme pembangunan bersih atau clean development mechanism (CDM) sebagai bagian dari protokot kyoto (Susandi, tanpa tahun). Pembiayaan proyek CDM bagi negara maju adalah memperoleh target penurunan emisi secara lebih efisien sedangkan bagi negara berkembang merupakan peluang ekonomis pada pembiayaan nasional dalam rangka mencapai target pembangunan berkelanjutan seperti yaitu untuk beberapa tujuan seperti pembangunan sosial, ekonomi, dan lingkungan hidup. Sebagai mekanisme yang berbasis pasar aspek CDM tidak dapat mengesampingkan aspek komersial yang ada (Murdiyarso, 2003; 11).
Selain itu fenomena Carbon Trading yaitu pendekatan berbasis pasar dengan pemberian insentif ekonomi untuk mencapai pengurangan emisi karbon. Efek karbon menyebabkan eksternalitas sehingga memerlukan kebijakan publik, sementara Carbon Trading menyebabkan pengambil kebijakan ekonomi perlu meninjau mengenai polusi karbon dalam perdagangan seperti munculnya ide pembentukan dewan efisiensi pasar karbon pada bank sentral di Amerika Serikat, dengan menerapkan kebijakan Cap and trade dapat membantu mengontrol laju pertumbuhan ekonomi tanpa memberikan efek negatif pada pereknomian sehingga desain pasar karbon juga sangat penting selain menghindari fluktuasi yang tidak terkendali dan mengurangi resiko bubble ekonomi (Mason, 2009).
Usaha setiap negara dalam menurunkan emisi karbon berdasarkan aturan dimana jika suatu negara melebihi batas emisi maka akan dikenakan denda dan hukuman dengan hal ini maka akan ada permintaan yang menciptakan pasar karbon, dan hal ini memungkinkan adanya kredit karbon yang bisa menjadi bentuk komoditi maupun pembayaran baru dalam perdagangan internasional suatu saat nanti (Galt, 2009). Pada sektor moneter adalah mengenai bagaimana pengaruh perdagangan karbon dan investasi dalam skema CDM menanggapi isu perubahan iklim terhadap stabilitas moneter pada lingkup moneter makro ekonomi.

20-04-2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: