BI Project: Policy Maker

DSC03562Seorang pemimpin memiliki tanggung jawab atas rakyatknya, mereka selalu dihadapkan pada kondisi dimana akan mengeluarkan regulasi, policy agar tujuan kesejahteraan bersama tercapai. Presiden, gubernur sampai seorang camat memiliki fungsi yang sama yaitu sebagai “policy maker”.

Minggu ini aku mendapat kesempatan menjadi surveyor Bank Indonesia, tugas turun lapang menggali informasi ke kecamatan yang ada di jember. Aku jalankan dengan semangat. ya, karena ini amanah sekalian kegiatan yang bermanfaat untuk keilmuanku. Di kecamatan aku harus memastikan rekap data responden pada kuesioner yang aku bawa, susah memang karena ada yang carely ada juga yang careless. adapula yang banyak alasan ketika akan ditemui seakan menyembunyikan ketidak tahuan dirinya dalam memahami wilayah kekuasaanya. ternyata mereka yang seperti itu benar tidak begitu memahami wilayahnya, terbukti dari data yang iseng aku lihat di BPS, teringat buah inspiratif pada semangat Artur Cecil Pigou ” Tujuan utama dari belajar ekonomi adalah agar kita mampu melihat argumen-argumen ekonomi palsu dari para politisi“.

Sisi lain, pada salah satu kecamatan memiliki bapak camat yang kurasa cukup berwibawa, beliau menceritakan sedikit masalah yang ada di wilayahnya. penggalian batu piring merupakan salah satu sumber pendapatan warga, namun kontradiktif dengan hal tersebut penggalian tersebut malah merusak lingkungan tanpa ada timbal balik sebagai upaya konservasi. “…kesadaran yang rendah….” sehingga beliau akan merancang beberapa regulasi yang akan diterapkan dengan dalih coorporate sosial responsibity (CSR), semakin aku memahami bagaimana praktek seorang camat dalam menjalankan perannya.

Dalam dialog dan wawancara yang kami lakukan terkadang aku ingat kata dosenku dalam perbincangan kami mengenai pengumpulan tugas yang telah melewati deadline, beliau menagih tugas ke aku sebagai ketua kelas, namun belum ku kirim karena masih ada diantara teman-teman yang belum  mengumpulkan, dengan sangat sadar aku memohon waktu munkin ada diantara teman-teman yang mengumpulkan lagi sehingga mereka tidak mendapat nilai E karena begitu tugas tidak terpenuhi maka otomatis nilai yang lain mati. “itu hakmu untuk mengumpulkan sekarang atau besok, yang jelas begitu mereka tidak mengumpulkan maka nilai pasti E, mungkin atas kesetiakawanan terserah kalau kamu ingatkan lagi mereka”, mendapat restu untuk menunda, dengan semangat aku ingatkan lagi teman-temanku, ada yang merespon ada juga yang tidak ada kabar. mungkin ini yang aku jadikan sebagai analogi sederhana bagaimana aku menjalankan peran dalam mengambil kebijakan atau policy maker, benar kata pak camat bahwa tidak mudah  kita terkadang menghadapi orang yang beragam, diperkuat opini pak PMD bahwa meskipun kita membuat aturan untuk kebaikan bersama terkadang mereka tidak merespon karena mereka merasa digurui.. entah lah. . . .

Setiap orang pasti menjalakan peran sebagai policy maker, setidaknya policy atas dirinya sendiri.. policy maker tidak dapat semena-mena melainkan ada asumsi yang harus dipenuhi, melihat realita dan memahaminya, bukan sekedar perspektif baik dari dirinya yang sangat subjektif. tidak cukup ketegasan, namun juga kebijaksanaan memberikan rohmatan lilalamiin, kebaikan untuk semua. . . . .

28-05-2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: