Kutu Buku: Budaya Literasi dan Idealisme Pelajar

Buku dan pelajar merupakan suatu sinergitas, pelajar tanpa buku seperti pendekar samurai tanpa pedang, bagaimana tidak bahwasanya ilmu berasal dari buku yang merupakan kristalisasi pengalaman dan empiris yang bisa diserap dengan membaca tanpa perlu mengalami dinamika yang sama dengan penulis sehingga setelah membacanya ilmu siap kembali diimplementasikan kedalam bentuk yang lebih aplikatif. jika mau ditelisik lebih jauh maka membaca memang suatu kewajiban terutama bagi kaum muslim (maaf bagi yang non muslim), perintah pertama dalam Al-Qur’an adalah Iqro’ atau bacalah. hal tersebut menunjukkan betapa pentingnya membaca dalam membangun peradaban.

Hari itu dalam suatu perkuliahan dosen saya menyampaikan bahwa ilmu bukan dari dosen, namun dari buku sedangkan dosen adalah patner pada dalam ruang diskusi. Banyak buku beliau berikan pastinya dengan harapan akan dibaca oleh mahasiswanya dan membuat mereka siap pada ruang diskusi kuliah. seakan tahu pasti bahwa semua buku-buku berbahasa asing itu tidak akan tuntas diserap dalam satu semester, namun setidaknya beliau telah memberikan “camilan renyah” untuk menemani begadang mahasiswanya. Dosen lain memberikan suatu arahan bagi kami dalam diskusi nonformal mengenai kekuatan seorang pelajar, beliau memaparkan bahwa parameter kekuatan seorang pelajar dapat dilihat dari seberapa kuat dia mengurangi tidurnya dan menggantikan tidurnya dengan duduk mesra dengan buku dan jurnal ilmiah. dengan syarat dapat menjaga kebugaran fisiknya tetap prima. Seakan terlihat berat teringat buah pikir F. Bacon, “Beberapa buku harus dicecap, yang lain ditelan, dan beberapa yang jumlahnya sedikit harus dikunyah dan dicerna”.

Budaya yang sangat berat ya sangat berat, namun dosen lain juga memberikan saya inspirasi bahwa suatu kegiatan diulang-ulang secara paksa maka suatu waktu keterpaksaanpun akan menjadi kebiasaan.  sejalan dengan buah inspiratif Voltaire,” Tak ada obat yang lebih mujarab untuk penyakit jiwa selain kesibukan serius dari pikiran kita dengan objek-objek lain”.tentu kita akan membiarkan diri kita larut dalam penyakit kebodohan yang menjadi kronis melanda bangsa ini, mungkin kesibukan positif ini dapat menjadi alternatif mengatasinya.

Membaca dan membaca. . .APATIS, PRAGMATIS!. apalah kata mereka tidaklah mengapa, yakinlah bahwa kutu buku bukan orang seperti itu, namun orang yang menyalurkan daya NALAR, KREATIF, KRITIS, INOVATIF kedalam bentuk lain. presentasi pada ruang ilmiah, naik ke atas mimbar, hingga turun ke jalan melakukan orasi telah menjadi pengalaman berhargaku menjalani dinamika proses. hingga ku berfikir terkadang action ala aktivis tidaklah berarti apa-apa, namun pembuktian pada hitam diatas putih dapat lebih luar biasa. mungkin kombinasi keduanya dapat saling melengkapi.

_

_

_ Jember, 06 Juni 2013

pada meja pecah setengah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: