Lantas kepada siapa lagi, aku harus bercerita?

Seandainya aku bisa merubah diriku menjadi dua, akan kuceritakan pada bagian diriku yang lain agar aku bisa mendengar diriku bercerita,

“Bahwa kita hidup di alam tidak realistis, dialam mimpi, dunia khayalan, negeri dongeng atau apalah itu. tidak mudah bagaimana cara kita menunjukkan kepada orang seakan-akan yang kita lakukan adalah realistis, kita hidup di alam nyata, bukan di dalam cerita novel, dalam skenario sutradara gila yang tanpa  pernah tahu potensi terbesar apa yang bisa kita perankan”

kita benar-benar pernah hidup

“Bukankah kita adalah aktor yang hebat, seorang wayang tangguh yang mampu memainkan berbagai peran, seberapa besar probabilitas kita lepas dari lubang jarum yang selama ini telah sukses kita lewati, meskipun pada beberapa kesempatan kita terpeleset pada lorong pintu”

“Betapa tidak kamu mengerti, ketika kamu juga menjalani, betapa tidak kamu mengerti, ketika kamu juga merasakannya, seberapa besar kamu mengerti akan besarnya probabilitas yang realistis sementara aku tidak pernah tahu hitungan matematis yang telah kamu hitung”

“Keberhasilan bukan semata-mata diperoleh dari ketajaman fikir, namun juga variabel lain yang juga sangat menentukan.. apa perlu kuingatkanmu fungsi (X) untuk kesuksesan..

F(X)=Unlimited

dengan  fungsi constrain

F(Y)= Waktu+ Fisik+ Rutinitas Lain

“Coba simulasikan menggunakan lagrange memaksimalkan F(X) atas F(Y) pada implementasi faktual sehari-hari, agar kamu mengerti, agar kamu mengingat, agar kita sadari”

“Terkadang hal logis tidak mampu ditangkap akal, logika orang waras, bahkan aku tidak mampu mengenali dengan benar diriku sendiri, kadang terlewat batas.. atau ……………….”

“Kita tidak pernah tahu apa yang benar, kita tidak mampu dengan pasti melihat posisi General Equilibrium berada. namun kita dapat menemukan Equilibrium-equilibrium kecil yang akan saling berintegrasi dalam jangka pajang”.

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

JOHN NASH, Seorang matematikawan dalam sambutan penyerahan hadiah nobel..

“Aku selalu percaya kepada angka. Didalam persamaan dan logika yang mengarah kepada alasan.

Tetapi setelah pencarian seumur hidup seperti itu, Aku bertanya,

Apa sesungguhnya logika itu?

Siapa yang memutuskan alasan?

Pencarianku telah membawaku melalui fisik, metafisik, khayalan…

dan KEMBALI”

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

Sesuai dugaanku, mendengar ceritaku sendiri saja aku tidak mempercayainya…bahkan diriku tidak akan percaya…

pembohong, pembual besar, penipuuuu, atau  . . . . . .

=======================================================================================

lantas kepada siapa lagi, diriku harus bercerita? T.T

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: