DOMESTIC DEBT AND OUTPUT GROWTH: AN ANALOGY OF BEAUTIFUL GIRL’S DILEMMA

Moh. Maftuhul Khoir

Monetary and Development Economist

 

Dahulu kala ada seorang gadis cantik, dengan daya tarik dan keanggunan yang dia miliki membuat banyak pria tertarik kepadanya. Namun si gadis belum juga memiliki pasangan hidup, menyadari akan kelemahan yang dia miliki terkait materi, skill dan keterbatasan intelegensi, hingga dia memiliki dua pilihan karakter pria pendamping hidupnya yaitu pria super cerdas atau pria super kaya. Selayaknya tujuan gadis pada umumnya dia menginginkan kehidupannya kelak adalah kehidupan nyaman, memiliki rumah megah dan perhiasan mewah, memiliki keturunan secerdas bapaknya dan seanggun ibunya dan bahagia hidup bersama hingga akhir umur. Jalan seperti ini diambil karena cepat, instant, efektif, dan renyah. Meskipun tidak memiliki penghasilan namun masih dapat berbelanja dan terpenuhi kebutuhannya.

Setiap pilihan tentu memiliki risiko berbeda, sehingga membutuhkan skema mitigasi dengan strategi yang tepat. Pada suatu kondisi si gadis mencapai keadaan terendah secara materi karena tidak memiliki penghasilan dan sudah tidak memiliki uang sepeserpun, hal ini membuat si gadis lagi-lagi menginginkan opsi yang lebih instan, yaitu pria super kaya karena pria cerdas masih perlu proses untuk kaya. Pilihan si gadis jatuh pada pria superkaya dalam perkembangannya berimplikasi kontradiktif dengan harapan si gadis. Skenario tidak berpihak kepadanya karena ternyata si pria kaya memiliki banyak wanita simpanan seperti pria tajir yang lain, terlebih lagi kecerobohan si pria tidak hanya pada hubungan rumah tangga namun juga pada bisnis yang dia geluti. Pada akhirnya pria tersebut tidak hanya bangkrut namun juga keretakan rumah tangganya.

Lantas bagaimana dengan nasib si gadis, apa yang harus dia lakukan?

Ya, sebagai gadis rasional tentu tidak ada salahnya menengok kebelakang pada ketulusan hati pria supercerdas.

Selaras dengan karakteristik negara emerging market developing country, memiliki kelemahan defisit pembiayaan anggaran sebagai negara berkembang namun memiliki daya tarik investor untuk menggelontorkan dananya, kondisi ini membuat pilihan paling instan untuk mengatasinya adalah jalan utang dengan dua pilihan utang eksternal dan utang domestik. Berbagai risiko berbeda turut dipertimbangkan terkait financial risk, market risk, country risk, and fiscal risk. Resesi tahun 1997 untuk negara Asia dan 2008 untuk amerika dan eropa membuat keadaan defisit anggaran dan utang eksternal semakin memburuk. Ketika suatu negara sudah terjebak dengan utang luar negeri dengan debt repayment yang besar dan melebarnya contagiuos debt crises, bencana depresiasi nilai tukar dan ineffectiveness budget allocation maka skenario yang coba saya buat adalah mencoba keluar dari belenggu utang eksternal dan mencoba beralih pada opsi kedua yaitu dengan mengembangkan utang domestik, salah satunya dengan skema pasar obligasi. Pilihan ini untuk memunculkan fenomena home bias yang dapat merangsang sektor produktif dan peningkatan output sehingga pada akhirnya utang tidak hanya dapat menjadi fiscal stimulus namun juga fiscal sustainability yang efektif dan multiplier investment dengan risiko yang lebih kecil terkait sifat utang domestik yang bernominasi local currency.

Kita semua berharap kegagalan kebijakan utang yang disebabkan oleh menajemen risiko yang ceroboh dan disalokasi utang yang tidak tepat tidak terjadi seperti cerita dilemma gadis cantik dalam memilih pasangan hidupnya. jika pada akhirnya melahirkan anak bodoh, buruk rupa, dan pecah rumah tangganya.

Inspired By: Muhamad Dahlan & Andri Kosasih. Alumni Pasca Sarjana FEUI. “PENGELOLAAN UTANG DAN MENGUKUR OUTPUTNYA BAGI NEGARA”.

One thought on “DOMESTIC DEBT AND OUTPUT GROWTH: AN ANALOGY OF BEAUTIFUL GIRL’S DILEMMA

Add yours

  1. Isin komen nang FB,
    Hati” memandang kondisi perekonomian Indonesia (negatif) seperti keadaan kondisi gadis pencari jodoh di atas :D. Ada dua hal yg bikin urat syarafku jd tegang. Pertama esensi seorang gadis dalam memperoleh kebahagiaan terlalu duniawi. Jika disamakan esensi manusia mencapai motif ekonomi (Maximum Growth Paradigm) dan esensi negara mencapai pertumbuhan ekonomi, apakah itu sama dengan esensi manusia untuk hidup dimana kebutuhan manusia sendiri tak terbatas? Maka kondisi stabil lah yang harus menentukan kondisi kebahagian yg harus diperoleh. Hampir pikiran semua orang harus berada kestabilan yang lebih tinggi daripada sebelumnya dan kemudian menyebabkan ketidakstabilan bangsa lain. – Paradigma Ekonomi Pembangunan Syariah- ; Seminar Happines Growth

    Kedua, lebih ke spesifik pembangunan ekonomi di Indonesia, mungkin dari awal semester kita sendiri jarang diposisikan cara berpikir menghadapi kondisi ekonomi pembangunan Indonesia kedepannya. Dari cara pandangmu sudah berbeda jika melihat defisit fiskal Indonesia membahayakan stabilitas ekonomi makro. Perlu ditinjau kembali defisit fiskal membahayakan jika:
    a. defisit fiskal dapat meningkatkan rasio utang terhadap PDB
    b peningkatan jumlah obligasi pemerintah menciptkanan efek crowding out
    c defisit fiskal menyebabkan inflasi yang tinggi.
    Ketiga”nya Indonesia tidak berdampak, jadi otomatis Indonesia dikatakan stabil dalam ekonomi makro, paradigma ekonomi pembangunan berkelanjutan berhasil dari 2004 sd sekarang.
    Kalau mau menutupi utang dan menjadi surplus, Indonesia sudah bisa dari dlu karena utang Indonesia hanya 10% dari pendapatan. Pelajari dlu teori pendapatan, dan nanti didapatkan mengapa banyak negara yg menggunakan global imbalances, hal itu menyebabkan negara defisit dan negara perekonomian kecil terbuka.

    Bukan jaman nya lagi masih mengembangkan paradigma ekonomi berkelanjutan karena Indonesia juga akan bersiap memasuki negara Industri. Perlu diingat emerging market bukan dibentuk karena melengkapi kelebihan dan kekurangan sepihak, tapi dari dua pihak developing country dan advanced country. Dari kesempatan itulah yang memunculkan paradigma baru mengenai Independent dan Syariah Economic Development.

    Banyak sih kalau mau dilanjutkan lebih lanjut dari pengurangan rasio pajak dari APBN tahun 2014, membiarkan defisit fiskal terus berlanjut sesuai pengendalian koordinasi fiskal maupun moneter dalam pertumbuhan ekonomi dan lain-lain.

    Untuk tumbuh memiliki beban resiko yang lebih apalagi memikirkannya, memikirkan resiko suatu yg jauh dari diri tanpa melihat kedepannya ada hari setelah dunia.

    Saran buat seminarmu besok ftuh, cayo!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: